Cerita dari Joni

Photo by thehungergames.wikia.com

Gemintang.com – Hari ini, seorang lelaki berumur 16 tahun bernama Joni, mendapat tugas dari gurunya untuk bercerita di depan kelas tentang liburan semesternya yang baru saja berakhir. Namun Joni bingung ingin bercerita apa, selama liburan semester tidak ada aktivitas spesial yang ia lakukan. Dan akhirnya Joni memilih bercerita tentang hal-hal ini;

“Nama gue Joni, selama liburan gue gak pergi ke Ancol, gue gak jalan-jalan ke Dufan atau gue gak mudik ke kampung nenek-kakek gue. Gue hanya mengamati hal-hal yang ada di sekeliling gue. Hal pertama yang mau gue ceritain adalah tentang zaman yang semakin canggih ini. Namun gue justru bingung dengan kecanggihan bahasa sekarang. Gue berani jamin pasti kalian udah tahu dengan istilah, ‘galau’, ‘alay’, ‘ciyus miapah?’ bukan? Entahlah spesies mana yang mempunyai hak cipta atas nama-nama tersebut.

Oke, gue akan memulai pembahasan ini dari tema ‘Alay’.

Gu3 t4hU L0 5eMu4 pAstI p3rNaH kAy4 9in1 k4n??? gue jamin semua remaja pasti pernah, termasuk gue. Tapi sekarang gue udah tobat, lho! Suer deh! Dan kalo inget itu gue pasti langsung geli sendiri apa lagi kalo ketemu akun Facebook yang namanya ditulis kaya gini, “Dian Chayank Kamu Clalu”, atau “Si Cantik Yang Tak Pernah Berdusta”. Hellooo… Kasian banget ya nama udah bagus-bagus di buat emak bapak lo sekarang di ganti dengan nama-nama tersebut. Hm…

Orang alay juga bisa di deteksi bukan hanya dari hal tersebut, tapi juga cara fotonya. Coba aja perhatiin, mereka selalu foto dengan telunjuk yang di tempel di bibir, atau foto gaya hormat. Hormat sama siapa sih? Oke, pembahasan tentang Alaynya udah cukup.

Pernah tahu gak kalo sekarang ada anak SD kelas 4 yang udah bisa galau? Jaman gue SD, gue cuma tau main taplak gunung, bakiak atau congklak. Tapi sekarang, gak di Facebook, gak di Twitter status mereka galau semua. Satu tambah satu aja galau.

“Besok ada ulangan bahasa Inggris, lho!”

“Ciyus? Miapah???”  

Kenapa ya, jaman sekarang kok banyak orang yang ngomong dengan berlagak dan berdialek kaya anak bayi. Padahal kan mau cara bicaranya imut kaya bayi tapi kalo tampangnya sangar tetap aja sangar. Enelan, coba aja sendiri.

Hm, kasian ya para pemuda Indonesia jaman penjajahan dulu yang bersumpah berbahasa satu bahasa Indonesia.Coba bayangkan bagaimana jadinya kalau ada anak alay dengan gaya fotonya yang satu jari di bibir plus suka ciyus miapah. Hm…”

Itu cerita dari Joni, apa ceritamu?

(mir/rut)

Related Posts