Jurnalisme Kekerasan Seksual dalam Film Spotlight

Spotlight-Movie-(3)

Gemintang.com – Benarkah Rumah Tuhan menjadi tempat yang paling aman bagi anak-anak di muka bumi ini? Ternyata di kota Boston, Amerika Serikat dan di berbagai belahan kota lainnya rumah itu justru menjadi tempat yang berbahaya. Pernyataan tersebut dibuktikan ketika sebuah investigasi tentang pelecehan seksual yang dilakukan oleh para pastur di lingkungan gereja terkuak. Kisah ini bisa kita lihat pada film berjudul Spotlight. 

Film yang diangkat dari kisah nyata ini bukanlah sekadar karya dokumenter, tetapi juga sebuah film. Disutradarai oleh Tom McCarthy, Spotlight dibuka dengan hadirnya pemimpin redaksi baru dari Miami bernama Marty Baron. Dengan karakternya yang ringkas, Baron tak ingin banyak cingcong. Ia segera mempertanyakan sebuah rubrik investigasi di harian The Boston Globe bernama Spotlight dan menantangnya untuk membongkar skandal pelecehan seksual yang terjadi di lingkungan gereja Katolik di Boston, Amerika Serikat.

Awalnya tantangan dari sang pemimpin redaksi dianggap sebagai hal yang sia-sia oleh tim Spotlight, sebab kasus tersebut melibatkan sebuah agama dan instansinya. Dan kebanyakan kasus yang melibatkan agama serta instansinya sangat sulit ditelisik. Sebelumnya sudah banyak pula pihak yang mencoba mengangkat kasus pelecehan seksual di lingkungan gereja ke permukaan tetapi hasilnya nihil. Dengan kata lain, membongkar kasus ini akan menjadi sesuatu yang mustahil. Meski begitu, tim Spotlight akhirnya menerima tawaran tersebut sembari mengerjakan kasus-kasus reguler.

Tim yang terdiri dari Marty Baron (Mark Ruffalo), Walter “Robby” Robinson (Michael Keaton), Michael Rezendes (Mark Ruffalo), Sacha Pfeiffer (Rachel McAdams), dan Matt Carroll (Brian d’Arcy James) akhirnya mengambil langkah untuk mengurai satu per satu kasus tersebut. Dari saksi kunci pertama yakni Phil Saviano, berbagai tanda muncul dan membuat tim Spotlight penasaran sekaligus berambisi untuk memecahkannya hingga selesai. Melalui berbagai sumber mereka menemukan fakta bahwa pelaku pelecehan itu tidak hanya satu tetapi puluhan bahkan mencapai angka 90 orang!

Lantaran pilihannya hanya ada dua; menghentikan investigasi atau tetap meneruskannya dengan hasil laporan yang akan sangat memojokkan Gereja dan berakibat fatal bagi kota Boston–dan juga dunia–pemimpin harian Boston Globe pun dilanda rasa galau. Namun berbekal keberanian dan bersenjatakan data-data akurat, tim Spotlight akhirnya mengambil keputusan untuk tetap maju seraya menghajar sistem yang ada. Sebab setiap kali kasus serupa muncul, si pelaku alias pastur tersebut hanya direlokasi tanpa dituntut pidana.

Menariknya, gaya sang sutradara menggarap film ini amat konvensional; mengamati, mengendus, mencari, mewawancarai serta mengejar berita–dan semua itu tetap terasa menarik. Agar proses penyelesaian kasus tetap berjalan, mereka kerap berdebat di meja redaksi, membandikan bahan berita hingga bicara soal prioritas yang sering kali berujung pada rasa frustasi.

Meski hanya satu kasus khusus yang dikuak, namun emosi dari para awak Spotlight bergitu nyata, contohnya seperti yang ditunjukkan oleh Mike Resendez. Melalui tokoh yang satu inilah kita bisa merasakan bagaimana sebuah fakta dapat menjadi sesuatu yang menakutkan, menyedihkan, atau mengherankan. Emosi itu juga yang menunjukkan kepada para penonton bahwa rumah Tuhan seharusnya menjadi tempat perlindungan yang paling aman. Selain itu, sutradara Tom McCarthy juga tidak menonjolkan kecanggihan teknologi meski latar waktunya menunjukkan era milenium yang baru saja terbit.

Seperti karya dokumenter pada umumnya, di akhir cerita penonton akan dibanjiri dengan informasi mengenai pelecehan seksual yang terjadi selama kurun waktu tertentu dan ratusan artikel yang telah dimuat oleh harian The Boston Globe sehingga keberanian itu merambat ke kota-kota lain di Amerika Serikat dan dunia. Para kritikus film sempat mensejajarkan film ini dengan judul-judul seperti Citizen Kane atau All President’s Man, meski demikan tetap saja Spotlight memiliki tempat tersendiri di hati para penikmatnya.

Film Terbaik Oscar 2016

Spotlight-Movie-(2)

Rasanya tidak berlebihan jika film yang kisahnya sudah menjadi pengetahuan umum warga dunia ini berhasil memenangkan piala Oscar. Bagaimana tidak, Spotlight telah memberikan sumbangsih besar dalam dunia jurnalisme sekaligus berhasil mengentas pikiran skeptis banyak orang. Spotlight pula yang membantu para korban pelecehan seksual dapat menyuarakan pendapat dan deritanya.

Saat aktor kawakan Morgan Freeman mengumandangkan bahwa Spotlight didapuk sebagai film terbaik Oscar di tahun 2016 mengalahkan The Revenant yang diperankan oleh Leonardo DiCaprio, banyak orang dan pegiat seni takjub. Meski digarap dengan dana yang minimal namun bisa menghasilkan kualitas yang maksimal. Hingga saat ini Spotlight masih belum tayang di Indonesia. Kita nantikan saja kehadirannya di layar kaca favoritmu, ya!

SPOTLIGHT

Produser: Blye Pagon Faust, Steve Golin, Nicole Rocklin, Michael Sugar.

Sutradara: Tom McCarthy

Skenario: Josh Singer dan Tom McCarthy

Pemain: Michael Keaton, Mark Ruffalo, Rachel McAdams, Liev Schreiber, Stanley Tucci.

foto: imdb

(asq/rut)

Jurnalisme Kekerasan Seksual dalam Film Spotlight silky

Review

Jurnalisme Kekerasan Seksual dalam Film Spotlight

Summary: Jurnalisme Kekerasan Seksual dalam Film Spotlight

5

Good

User Rating: 0 (0 votes)

Related Posts