Cara Memandang Masalah

Gemintang.com – Seorang gadis berumur 20 tahun yang duduk di bangku kuliah semester enam bernama Intan, meletakkan sebuah kertas di atas meja ruang tamu. Surat itu sengaja ia tulis untuk ibunya, orangtua tunggal yang saat ini masih hidup dan setia mendampinginya. Sejak umur Intan menginjak lima tahun, Intan telah ditinggal oleh ayahnya.

Malam itu sepulang bekerja, sang ibu merebahkan diri dan duduk di bangku ruang tamu. Baru saja merebahkan diri sejenak, sang ibu melihat sebuah surat di hadapannya. Dibukalah surat tersebut dan didapati tulisan tangan sang anak.

Untuk ibu tersayang,

Ibu, terimakasih telah meluangkan waktu untuk membuka surat ini. Saat ibu membaca surat ini, itu artinya aku akan tinggal bersama temanku bernama Putri untuk waktu yang cukup lama. Aku mohon, ibu jangan emosi terlebih dahulu, walaupun ibu mengenal Putri sebagai anak yang bandel dan nakal serta mengkonsumsi obat-obatan terlarang, tapi sebenarnya dia anak yang baik.

Ibu jangan terkecoh dengan sikapnya yang serampangan dan kata-katanya yang kasar, biarpun begitu dia adalah teman yang sangat mengerti diriku. Aku bahkan dikenalkan pada teman prianya yang sangat tampan. Ibu… percayalah padaku, umurku sudah 20 tahun, aku bisa mengambil keputusan terbaik untuk diriku sendiri.

Sang ibu menitikan air mata membaca lembaran pertama surat tersebut. Dengan hati yang berat, ia membuka lembaran yang kedua.

Ibu, apa yang ibu baca pada lembaran pertama sebenarnya tidak terjadi padaku. Itu adalah gambaran dari sebagian anak gadis saat ini. Tapi syukurlah aku tidak demikian. Ibu senang, kan? Bukankah ibu menginginkan aku tidak bergaul dengan teman-teman seperti itu? Tentu saja, walaupun nilai semesterku kali ini jelek, tapi itu lebih baik daripada mempunyai anak yang seperti itu, bukan?

Oh ya Ibu, nilai-nilai semesterku ada di lemari di samping televisi, maafkan aku atas nilaiku yang buruk. Tolong di tanda tangani ya, Bu. Dan jika Ibu tidak marah karena hasil ujian semesterku ini, Ibu bisa mengunjungi kamarku. Nanti akan kubukakan pintu kamarku untuk Ibu.

Tak lama setelah itu, sang ibu pun mengetuk pintu kamar anaknya. Seraya mengetuk, hati sang ibu bersyukur bahwa hal tersebut tidak terjadi pada anaknya. “Intaaan….” ucap sang ibu agak gemas.

Situasi yang diciptakan Intan sebenarnya menggambarkan masalah besar yang seakan terlihat gawat sehingga masalah yang sedang ada menjadi terlihat kecil. Ini merupakan cara bersyukur untuk kita memandang setiap masalah yang ada. Di balik masalah yang saat ini kita hadapi, sesungguhnya ada banyak orang yang mengalami masalah lebih berat dari kita.

Fokus dengan apa yang tidak kita miliki menjadikan kita tidak mensyukuri hidup ini. Sedangkan jika kita mensyukuri apapun yang ada pada saat ini, hal tersebut membuat kita senantiasa mewajibkan diri untuk bersyukur.

foto: themagnoliapair.com

(ysf/rut)

Related Posts