Dari Wanita Karier Menjadi Ibu Rumah Tangga

Foto by chicmagz.com

Gemintang.com – Perubahan selalu terjadi dari waktu ke waktu, dan hal yang menyebabkan perubahan itu terjadi bermacam-macam alasannya. Dalam setiap tahapan hidup kita pasti berjumpa dengan hal yang disebut “perubahan”, karena manusia harus selalu menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Hal ini juga berlaku pada mereka, para wanita karir yang beralih fungsi menjadi ibu rumah tangga. Alasan pensiun dini, mengikut suami tugas keluar kota, mengurus anak, apapun perubahannya pasti menuntut penyesuaian.

Bagi Anda yang saat ini mengalami hal serupa –berubah haluan dari wanita karir menjadi ibu rumah tangga– tak perlu bingung dan risau lagi menyikapinya. Hal pertama yang harus Anda pahami adalah mengatasi rasa takut dimana proses adaptasi itu dimulai. Setidaknya ada tiga ketakutan utama yang akan Anda alami dalam menuju suatu perubahan yang baru. Yang pertama tentang bagaimana mengisi waktu luang, perubahan arus keuangan, dan ketiga  perubahan emosi. Saat Anda memahami betul bagaimana diri Anda tentu Anda sudah siap dengan segala ketakutan yang mungkin terjadi. Pandanglah perubahan yang ada dengan pemikiran yang seluas-luasnya. Jangan membandingkan aktivitas dimasa lampau dengan yang sekarang Anda jalani ketika sebuah keputusan telah Anda ambil. Misalnya saja, membandingkan perubahan suasana saat bekerja dikantor dengan saat berada dirumah, akibatnya Anda tidak merasa nyaman dan belum terbiasa dengan perubahan yang ada. Jika keadaan yang lama lebih baik, lantas kenapa memilih keputusan yang berbanding terbalik? Kesulitan yang Anda rasakan disebabkan karna Anda selalu melihat bayang-bayang masa lalu sebagai sebuah kenyamanan, padahal tidak semua perubahan berujung negatif, banyak hal positif yang dapat kita ambil dalam perubahan itu sendiri, terutama bagi Anda para wanita karir yang beralih menjadi ibu rumah tangga.

  • Perubahan aktivitas

Memasak, mencuci, berbelanja, menjemput anak ke sekolah dan segala kegiatan khas ibu rumah tangga sesungguhnya tidak akan membuat Anda “mati gaya” karena Anda punya banyak waktu dirumah.  Awalnya mungkin Anda merasa perubahan ini merenggut potensi Anda untuk berkembang. Eits, jangan salah paham dulu. Menjadi ibu rumah tangga tok tidak selamanya membosankan. Potensi itu tidak hanya disalurkan pada bidang kerja formal, tetapi juga informal. Termasuk menjadi ibu rumah tangga. Justru dengan ketersediaan waktu yang banyak, Anda boleh mengikut kursus memasak, menjahit, aktif di kegiatan sosial atau bahkan melakukan hobi yang dari dulu selalu terbentur dengan jam kerja Anda. Workaholic sejati justru tidak mengkhawatirkan perubahan yang terjadi.

  • Perubahan keuangan

APBRT atau Anggaran Pendapatan dan Belanja Rumah Tangga tentu mengalami perubahan ketika Anda memutuskan untuk menjadi pengurus rumah tangga full time. Sejatinya, semua perubahan itu tidak akan menjadi hal yang berarti ketika Anda dan pasangan dapat saling memahami. Tapi tak jarang hal itu justru membuat masalah yang tadinya tidak ada justru muncul ke permukaan. Perubahan materi terkait dengan perubahan emosional seseorang, maka tak jarang ada orang yang kecewa ketika materinya menurun.

Untuk mengatasi semua itu, kenali pos-pos penting yang harus tetap dipertahankan keberadaannya. Pahami mana pengeluaran yang penting dan yang kurang penting. Kalau dulu sewaktu masih bekerja Anda bisa nongkrong di kafe tanpa mengkhawatirkan berlangsungnya kehidupan keuangan keluarga, mulai saat ini Anda bisa mengganti kebiasaan itu dan diisi oleh pos pengeluaran keluarga yang lebih penting. Sebagai gantinya Anda bisa lho melakukan pekerjaan yang dikerjakan dari rumah. Jaman sekarang, pekerjaan sambilan yang dikerjakan dirumah sudah banyak dilakuakn oleh ibu-ibu rumah tangga lainnya.

  • Perubahan Emosional

Suatu sore rekan kerja Anda dulu menelfon Anda dan menceritakan perjalanan bisnisnya dari Australia. Menanggapi hal itu Anda pun menjawabnya dengan “Kalau saya dulu…” atau “Dulu saya juga…”.

Pernakah Anda menyadarinya? Disadari atau tidak, hal tersebut merupakan salah satu contoh perubahan emosional. Post power syndrome bukan hanya dialami bagi mereka yang pensiun tua, kondisi post power syndrome terjadi pada seseorang yang kebutuhan eksistensinya tinggi namun tidak bisa diekspresikan lagi. Ada kecendrungan untuk tetap menunjukkan eksitensi itu padahal ia sudah tidak lagi diposisi tersebut. Sesungguhnya perbandingan antara tingginya jabatan dengan tingkat emosional tidak selamanya berbanding lurus. Semua itu tergantung dari kematangan pribadi tiap individunya. Status dan peran hendaknya dimainkan secara fleksibel. Ingat, ketika Anda tidak bisa lagi eksis di kantor, Anda masih bisa eksis di tempat-tempat lain yang mungkin saja bisa memberikan dampak positif dan memberikan prestasi bagi diri Anda.

(rut/rut)

Related Posts