Christine Hakim Sang Aktris Legenda Indonesia

Gemintang.com – Siapa yang tidak kenal Christine Hakim, aktris legendaris di dunia perfilman Indonesia? Christine bukan hanya seorang aktris, namun juga produser film dan aktivis. Kemampuan aktingnya bukan hanya diakui oleh para peminat film Indonesia, namun juga oleh dunia.

Berbagai penghargaan di bidang akting ia raih bukan hanya di kancah nasional, namun juga di kancah dunia. Mau tau lebih jauh mengenai kiprah Christine Hakim di bidang akting? Simak saja perjalanan karier aktris legenda Indonesia ini.

Wanita yang lahir dengan nama Christine Natalia Hakim lahir pada 25 Desember 1956 di Kuala Tungkal, Jambi. Pada awalnya, Christine ingin menjadi seorang arsitek atau psikolog. Namun ia berubah pikiran ketika ia berjumpa dengan Teguh Karya yang mengajaknya bermain sebagai pemain utama wanita dalam film pertamanya Cinta Pertama (1973).

Tak disangka debutnya di dunia perfilman ini langsung disambut hangat dan penghargaan sebagai “Pemeran Utama Wanita Terbaik” di ajang Festival Film Indonesia 1974 pun diraihnya. Sejak itu, Christine menggeluti dunia akting dengan serius dan banyak mahakarya sudah ia telurkan.

Beberapa film layar lebarnya yang sukses di pasaran adalah Sesuatu yang Indah (1977), Pengemis dan Tukang Becak (1978), Balik Kelambu (1982), Kerikil-Kerikil Tajam (1984), Tjoet Nja’ Dhien (1988), Sinyo Salam (1993), Nemuru Otoko (1996), Gordel Van Smaragd, De (1997) serta Daun di Atas Bantal (1998), Pasir Berbisik (2000), Puteri Gunung Ledang (2004), Anak-Anak Borobudur (2007), In the Name of Love (2008), Jamila Dan Sang Presiden (2009), Merantau (2009), Eat Pray Love (2010) serta yang terakhir Retak Gading (2014).

Bukan hanya film layar lebar, Christine Hakim juga turut berperan dalam beberapa sinetron. Walaupun keikutsertaannya dalam sinetron sempat mendapat beberapa kritikan tajam dan cibiran dari masyarakat yang tidak setuju ia masuk ke dalam dunia sinetron yang seringkali dianggap murahan.

Namun sinetron-sinetron yang ia bintangi bukan sekedar sinetron. Ia sempat membintangi tiga sinetron, yaitu Bukan Perempuan Biasa, Tiga Orang Perempuan, dan Anakku Terlahir Kembali.

Sepanjang kariernya, Christine Hakim telah mendapatkan berbagai penghargaan di bidang perfilman baik nasional, maupun internasional. Enam kali memenangkan kategori Pemeran Perempuan Terbaik dalam Piala Citra dan empat kali memenangkan Aktris Terbaik dalam Festival Film Asia Pasifik.

Film yang diproduserinya, ‘Daun Di Atas Bantal’ berhasil mendapat penghargaan Special Jury Prize dalam Tokyo International Film Festival 1998 dan memenangkan Penghargaan Film Terbaik dalam Festival Film Asia Pasifik 2001. Di tahun yang sama, film lain yang ia produseri ‘Pasir Berbisik’ memenangkan penghargaan Special Jury Prize dalam Seattle International Film Festival.

Selain itu, Christine Hakim juga dipercaya untuk menjadi salah satu juri dalam Festival Film Cannes 2002 dan mendapat penghargaan seumur hidup dari Manila’s Cinemanila Film Festival. Yang lebih menakjubkan adalah ia dinobatkan sebagai Asian Heroine oleh Majalah Time di tahun 1999.

Aktris kawakan ini juga merupakan anggota juri dalam Shanghai Film Festival (1985), Tokyo Film Festival (1990), Hawaii Film Festival (1991), Asia Pacific Film Festival di Sydney dan Singapore Film Festival (1994), Asia Pacific Film Festival di Jakarta dan the Fukuoka Asian Film Festival (1995).

Christine juga aktif dalam berbagai kegiatan sosial. Ia mendapat kehormatan sebagai duta UNESCO untuk pendidikan guru di Asia Tenggara yang bertujuan mengurangi kurangnya jumlah guru, meningkatkan kualitas hidup guru dan kualitas pendidikan, terutama di kawasan Asia Tenggara.

foto: republika.com

(ysf/rut)

Related Posts