Hanung Bramantyo dan Karya-karyanya

Hanung-Bramantyo

Gemintang.com – Siapa sih yang tidak tahu Hanung Bramantyo, sutradara terkenal dengan karya dan polemik yang dibuatnya? Salah satu karya yang membuatnya dikenal oleh kawula muda adalah film Jomblo yang berlatar belakang pencarian cinta para lelaki jomblo yang dibalut dengan komedi. Sedangkan salah satu karya yang mengundang polemik di kalangan masyarakat kita adalah Ayat-Ayat Cinta.

Film itu diadaptasi dari novel religius Islam tapi hadir dengan salah satu karakter beragama Katolik yang akhirnya memeluk agama Islam. Benar-benar film yang mengundang kontroversi sekaligus membuat karyanya semakin diakui oleh perindustrian film Tanah Air. Lantas apa karya Hanung hanya kedua film di atas yang membuatnya diakui sebagai sutradara? Tentu saja tidak. Cari tahu lebih dalam sosok Hanung di bawah ini.

Usut punya usut, ternyata Hanung yang memiliki nama lengkap Setiawan Hanung Bramantyo sejak sekolah dasar sudah jatuh cinta dengan dunia teater. Anak pertama dari lima bersaudara dari pasangan Salim Purnomo dan Mulyani ini, membuktikan cintanya dengan membuat Waiting for Godot karya Samuel Beckett, penulis Irlandia, sewaktu duduk di bangku SMP.

Pria kelahiran 1 Oktober 1975 ternyata pernah berkuliah sebagai mahasiswa ekonomi di Universitas Islam Indonesia dan mengundurkan diri lalu berkuliah di IKIP Yogyakarta dan lagi-lagi hengkang. Hanung pun pindah ke Jakarta dan melanjutkan pendidikannya di IKJ. Selama menimpa ilmu di IKJ, Hanung memulai debut karirnya lewat film pendek yang berjudul Tlutur di tahun 1998.

Lewat film yang bercerita tentang seorang penari yang harus kehilangan kakinya karena ulah anggota komunis Indonesia, Hanung berhasil menang sebagai juara pertama di Festival Film Alternatif Jakarta. Lalu di tahun 2000, dia membuat FTV berjudul Topeng Kekasih sebelum akhirnya membuat FTV lain berjudul Gelas-gelas Berdenting (2001) dan menang juara ketiga dalam Festival Film Kairo yang ke-11.

Awalnya FTV ini akan diangkat ke layar lebar, tapi karena beberapa tekanan yang didapatnya dari masyarakat Yogyakarta akhirnya niat itu urung direalisasikan. Bukan Hanung namanya kalau menyerah begitu saja. Dia pun membuat karya yang ceritanya bisa diterima dengan mudah oleh masyarakat Indonesia yaitu Brownies (2004).

Film Brownies pun berhasil memenangkan beberapa penghargaan di Festival Film Indonesia, salah satunya Sutradara Terbaik di tahun 2005. Sejak itu pula dia merilis beberapa film diantaranya di tahun 2005 CAS (Catatan Akhir Sekolah), Sayekti dan Hanafi dan Jomblo, di tahun 2006 Lentera Merah (film horor), di tahun 2007 Kamulah Satu-Satunya, Legenda Sundel Bolong, dan Get Married (Sutradara Terbaik di FFI, tahun yang sama).

Di tahun 2008, lewat karya terbarunya berjudul Ayat-Ayat Cinta, Hanung membuat kontroversi di masyarakat. Meskipun mengundang polemik, film ini berhasil meraih 1,5 juta penonton selama sembilan hari masa tayang di bioskop. Nampaknya Hanung menikmati perannya sebagai sutradara dengan tema film religius.

Satu tahun kemudian dia mengangkat sebuah kisah seorang perempuan yang hidup di pesantren dengan beberapa konflik yang harus dihadapinya. Film ini diberi judul Perempuan Berkalung Sorban dan sempat mengundang kritikan dari beberapa golongan Muslim. Lalu di tahun 2010, Hanung membuat film berjudul Sang Pencerah yang menceritakan tentang pendiri Muhammadiyah, Ahmad Dahlan.

Banjir Kritikan

Lagi-lagi kritikan dilontarkan pada Hanung yang mengharuskan dia untuk memotong beberapa adegan film agar layak tayang. Hanung kembali membuat polemik di tahun 2011 lewat filmnya yang berjudul ? (Tanda Tanya) karena filmnya sarat dengan kemajemukan agama di Indonesia dan terorisme.

Kritikan dan polemik lainnya ternyata juga mampir ke dalam film terbarunya yang berjudul Cinta Tapi Beda yang mengisahkan tentang dua insan yang menjalin kisah cinta dengan latar belakang perbedaan agama. Dan film ini sempat di tarik di beberapa kota di Indonesia karena protes dari masyarakat di daerah tersebut namun tak sedikit pula yang memuji karyanya.

Hanung ternyata tidak ingin berpuas diri, dia pun membuat film bertemakan olahraga berjudul Tendangan dari Langit dan Pengejar Angin; disponsori pemerintah Sumatera Selatan guna mempromosikan pertandingan ASEAN dan sempat mengundang kontroversi karena terlalu komersial di tahun 2011. Sedangkan karya terbaru Hanung yang baru dilemparkan ke pasaran adalah Perahu Kertas, adaptasi dari novel Dewi Lestari dengan judul yang sama.

Beberapa karya Hanung sudah dipaparkan, lalu bagaimana dengan kehidupan pribadinya? Ini bukan gosip, melainkan fakta. Hanung menikah dua kali. Setelah cerai dari istri pertamanya, Yanesthi Hardini dan memiliki seorang putra, dia pun menikahi Zaskia Adya Mecca dan dikarunai seorang putri.

Itulah sosok Hanung dengan beberapa karya yang dihasilkan dari tangan dinginnya. Meskipun sempat dijuluki sebagai sutradara film religius, Hanung justru ingin lebih dikenal sebagai sutradara yang mengedepankan keyakinannya dalam melawan kebodohan dan keawaman masyarakat akan keadaan di sekitar mereka.

foto: indonesianfilmcenter.co

(ldy/rut)

Related Posts