Kontroversi Mengenai Tes Keperawanan Dikalangan Siswi SMA

Photo by friedmanforher.tumblr.com

Gemintang.com – Dinas Pendidikan Kota Prabumulih, Sumatera Selatan baru saja membuat wacana tentang tes keperawanan kepada para sisiwi SMA dan sederajat. Hal ini dilakukan karena menurut Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Prabumulih, data remaja yang telah melakukan seks sebelum menikah telah meningkat. Kepala dinas pendidikan kota Prabumulih, HM Rasyid, mengatakan bahwa mereka telah merencanakan dari jauh-jauh hari tentang wacana ini. Dana tes ini pun rencananya akan diajukan dalam APBD 2014.

Tentu saja wacana ini menuai banyak kecaman dan protes dari banyak pihak. Namun biarpun begitu, tak sedikit juga yang setuju. Politisi PKS yang juga merupakan anggota DPRD Kendal, Jawa Tengah, Budiono setuju dengan diadakannya tes ini.

“Untuk mencegah hal-hal yang diluar batas, tes ini perlu dilakukan. Selain itu tes keperawanan juga merupakan bentuk pencegahan terhadap siswa-siswi.” Ujarnya.

Setali tiga uang dengan Budiono, Bupati Garut, Agus Hamdani menganggap bahwa tes keperawanan bagi siswi SMA ini perlu dilaksanakan. Bahkan MUI Pamekasan, Jawa Timur menganggap tes keperawanan ini perlu dibuat undang-undangnya.

“Tapi untuk sementara ini, saya rasa tes keperawanan untuk siswa SMA belum dibutuhkan di kota Garut.” Tuturnya.

Ada yang pro ada pula yang kontra. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia, M. Nuh berkata bahwa tes keperawanan ini perlu dikaji ulang. Bahkan di media sosial seperti Twitter dan Facebook pun juga menuai protes yang rata-rata beranggapan bahwa tes keperawanan sangatlah berlebihan dan melanggar norma kemanusian. Bukan hanya itu, banyak pihak yang mempertanyakan keuntungan dari tes keperawanan ini.

Salah seorang warga Kampung Melayu, Jatinegara, Hasan Sadikin menganggap bahwa tes keperawanan ini merupakan hal gila. Lebih baik siswi-siwi SMA tersebut diberikan pembekalan moral dan rohani yang lebih banyak.

Diadakannya kegiatan tes keperawanan seharusnya mempunyai tujuan yang jelas dengan memikirkan resiko serta dampaknya. Selain itu, kondisi psikologis siswi-siswinya pun juga perlu diperhatikan. Tidak hanya berfokus pada tujuan awal.

So, Sobat Gemintang, apakah kamu setuju dengan wacana ini?

(asq/rut)

Related Posts