Tentang Tasripin dan Twitter SBY

Photo by regional.kompas.com

Gemintang.com – Belakangan ini kabar tentang Tasripin, bocah berumur 12 tahun yang hidup dalam kondisi ekonomi memprihatinkan bersama ketiga adiknya yang masih kecil, mengundang banyak perhatian masyarakat Indonesia. Ia tinggal di tengah-tengah kemiskinan di Dusun Pesawahan, Desa Gunung Lurah, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Mendengar cerita hidup yang Tasripin alami, SBY pun langsung menginstruksikan gubernur Jawa Tengah serta dinas setempat untuk memberi bantuan kepada bocah tersebut. Dalam akun Twitternya SBY menulis, “Saya akan segera mengutus Staf Khusus saya, bekerja sama dgn Gubernur Jateng, utk mengatasi persoalan hidup Tasripin. *SBY*.”

Ibu Tasripin meninggal diumurnya yang ke 37 tahun sedangkan ayahnya merantau ke Kalimantan untuk bekerja, karena itulah ia dan ketiga adiknya hidup tanpa orangtua dan mau tak mau Tasripin harus berjuang mempertahankan hidup bersama ketiga adiknya. Penghasilan Tasripin sebagai buruh tani hanyalah Rp. 10.000. Uang dengan jumlah tersebut ia gunakan untuk memenuhi kebutuhan makan selama dua hari dan sisanya untuk jajan adiknya yang paling kecil.

Sedangkan rumah yang ditinggalinya hanya terbuat dari bilik kayu dengan beralaskan lantai semen yang sudah rusak. Ia hidup sebagai buruh tani demi menghidupi dirinya dan ketiga adiknya. Ketiga adiknya, Dandi (7), Riyanti (6) dan Daryo (4) juga merasakan pahitnya hidup. Bagi mereka, makan dengan mie instan sudah termasuk “wah”, jika keadaan menghimpit mereka, mereka hanya makan nasi dengan kerupuk atau dengan garam saja. Tasripin tak lagi sekolah, begitu juga dengan Dandi dan Riyanti, sedangkan Daryo mengenyam pendidikan PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) di desanya, Gunung Lurah.

Tasripin berhenti sekolah ketika ia duduk di kelas 3 SD, namun biarpun ia dan kedua adiknya tak mengenyam pendidikan, setiap sore Tasripin selalu mengajari ketiga adiknya mengaji. Bahkan jika ketiga adiknya belum pulang dari kegiatan bermain, Tasripin langsung menyambanginya dan mengajaknya pulang. Jika pagi datang, hal pertama yang dilakukannya adalah memasak nasi dan memandikan adik-adiknya, namun adik bungsunya selalu menangis jika disuruh mandi.

Semenjak bantuan dari pemerintah dan pihak lain datang, kondisi ekonomi keluarga Tasripin sangat terbantu. Kediaman Tasripin pun juga di renovasi. Ia dibekali pemerintah dengan bantuan dana, dan rencananya dana itu akan Tasripin gunakan untuk biaya sekolah.

Sebenarnya masih banyak Tasripin-Tasripin lain di luar pulau Jawa yang tersebar di banyak kota di Indonesia. Namun, langkah SBY meresponi permasalahan ini haruslah kita hargai. Untuk menuntaskan masalah kemiskinan di Indonesia membutuhkan banyak pihak yang dapat saling bekerja sama, yaitu antara pemimpin, aparat pemerintah dengan rakyatnya. Dan bukan hanya itu, lembaga-lembaga seperti badan amal dan zakat juga harus diperhatikan, karena keberadaannya tentu juga berperan penting.

(mir/rut)

Related Posts