Belajar dari Kehidupan Anne Sullivan

Gemintang.com – Semua orang pasti sudah tahu tentang kisah Hellen Keller, bukan? Sosok perempuan buta dan tuli namun sangat menginspirasi. Hellen Keller tidak dapat melihat dan mendengar sejak umur 7 tahun – jauh sebelum ia mengenal dunia pendidikan. Karena keterbatasan yang dialaminya itu, Hellen tumbuh menjadi seorang anak yang pemberontak dan tidak mudah diatur. Namun bagaimana dengan Anne Sullivan? Seorang wanita yang dengan setia mengajar serta mendampingi Hellen Keller.

Sang ayah, Adam Keller, mendapat refrensi dari salah satu rekannya bernama Alexander Graham Bell agar membawa Hellen Keller kepada seorang wanita berumur 21 tahun lulusan Perkins School for the Blind bernama Anne Sullivan. Melalui wanita kelahiran 14 April 1866, Johanna Sullivan atau yang biasa disapa dengan Anne Sullivan ini dengan sabar mengajar dan mendampingi Hellen Keller hingga ia bisa berkomunikasi dan belajar huruf-huruf braille.

Anne lahir dalam sebuah keluarga yang miskin dimana ibunya meninggal saat ia berumur 5 tahun. Dua tahun kemudian sang ayah meninggal dan ia hidup bersama adiknya, Jimmy Sullivan yang menderita kelumpuhan karena penyakit Tuberculosis (TBC). Saat itu mereka tinggal disebuah rumah yang diperuntukkan bagi kaum miskin.

Anne pernah menderita penyakit trakoma dimana penyakit ini lebih sering diidap oleh kalangan masyarakat miskin dikarenakan kebersihan pribadi yang tidak diperhatikan. Akibat dari penyakit tersebut, Anne nyaris buta. Ia tak dapat membaca bacaan berlama-lama. Namun biarpun begitu, Anne selalu bertekad untuk dapat mengenyam pendidikan setinggi mungkin hingga ia menjadi pengajar di almamater sekolahnya, Perkins School for the Blind dan berhasil mengajar serta mendampingi Hellen hingga akhir hayatnya.

Sobat Gemintang, di dunia ini ada banyak cobaan dan masalah yang hadir silih berganti. Kita mungkin saja menganggap bahwa kehidupan ini berat dan sangat susah. Masalah ekonomi, keluarga, pekerjaan, orang-orang di lingkungan sekitar dan masih banyak lagi. Namun Gemintang yakin, Anne Sullivan pun juga pernah merasakan itu. Tapi justru di tengah kesulitan yang ia hadapi, bahkan penyakit yang hampir membuatnya buta, tidak menghalangi dirinya untuk terus menimba ilmu dan mengajar seorang Hellen Keller dengan sabar.

Lalu, jika Anne Sullivan bisa, kenapa kita tidak bisa?

Mari kita belajar dari sikap Anne Sullivan yang dengan sabar menghadapi kehidupan yang begitu sulit sekaligus menjadi pengajar dan pendamping bagi seorang yang buta dan tuli. Dengan kesabaran serta tekad yang kuat dan keyakinan yang teguh tentu kita bisa mengatasi segala masalah yang terjadi dihidup ini. So, Jadilah Anne-Anne Sullivan masa kini.

foto: scienza.panorama.it

(asa/rut)

Related Posts