Hidup Bersama Si Pengecam

Gemintang.com – Inilah kisah seorang putri bangsa dari sebuah desa kecil dibalik pegunungan yang ingin memperjuangkan mimpi dan cita-citanya. Pipit merupakan anak berusia 14 tahun yang sedang duduk di bangku SMP. Ia merupakan anak tertua dalam keluarganya. Di sekolah, Pipit termasuk anak yang berbakat dan berprestasi. Selain itu, ia juga memiliki budi pekerti yang baik.

Bakat dan talenta Pipit disadari oleh guru-gurunya. Tanpa ragu, guru-guru Pipit mendaftarkan Pipit dalam satu program beasiswa. Dalam program tersebut, Pipit dan orang tuanya diwawancarai baik secara terpisah maupun bersama-sama. Ternyata, pihak pewawancara dari program beasiswa menemukan dua reaksi yang berbeda.

Pipit terlihat bangga ketika mengetahui bahwa ia mendapat rekomendasi untuk masuk program beasiswa. Dengan penuh semangat ia memaparkan keinginannya untuk menjadi guru SD. Alasan yang mendorong Pipit ingin menjadi guru adalah kurangnya tenaga pengajar di desanya. Ia juga ingin membantu anak-anak di desanya untuk menjadi pandai dan lebih maju.

Hal ini sangat bertolak belakang dengan reaksi sang ibu. Bukannya merasa senang, sang ibu malah menyangsikan kemampuan Pipit, “Memang anak perempuan saya itu bisa apa? Paling nanti ujung-ujungnya menikah dan kembali ke dapur! Untuk apa beasiswa dan sekolah tinggi-tinggi? Lulus SMP saja sudah bagus!” Mendengar perkataan sang ibu, Pipit hanya menunduk dan tersenyum sedih.

Banyak di daerah Indonesia, anak-anak seperti Pipit. Anak-anak yang penuh harapan dan mimpi namun harus selalu dihalangi oleh orang tua yang mengecam. Sebagai orang tua, sudah selayaknya memberikan dukungan dan semangat bagi anak-anaknya. Namun ada saja orang tua yang menganggap anak sebagai beban.

Dari kisah Pipit, kita dapat belajar untuk melihat kebutuhan dari orang-orang di sekitar kita. Banyak tunas-tunas bangsa yang membutuhkan dukungan. Mari ubah pola pikir kita, lakukan sesuatu dalam upaya membangun negeri. Mulai dari hal sederhana, melihat kebutuhan orang di sekitar kita dan lakukan apa yang kita bisa.

foto: parentdish.co.uk

(ldy/rut)

Related Posts