Putuskan dan Lakukan!

Gemintang.com – Sore itu, aku harus menjemput seorang rekan kerja yang baru tiba dari Bali. Ketika menanti kedatangan pesawat di pintu kedatangan bandara, aku melihat satu keluarga di sebelahku. Seorang ibu dengan tiga orang anaknya. Tidak lama berselang, tampak sang anak lelaki tertua berteriak, “Ayah!!”

Aku pun melayangkan pandangan ke arah pintu kedatangan dan melihat seorang pria paruh baya dengan seyum sumringah dan tangan terbuka lebar. Si anak lelaki berlari menghampiri sang ayah diikuti adik lelakinya. Sang ayah langsung memeluk anak lelaki yang lebih kecil sambil bertanya, “Bagaimana kamu, Randi, sehat?”

“Sehat, Yah!” jawab anak lelaki itu semangat. Kemudian sang ayah memalingkan wajah dan memandang anak lelaki yang paling tua.

“Wah, kamu tampak lebih tinggi dari terakhir kali ayah lihat!” ucapnya sambil mengelus-elus kepala sang anak. Si anak tersenyum simpul dan memeluk pinggang sang ayah. Mereka bertiga menghampiri sang ibu dan anak perempuan batita dalam gendongannya.

“Waduh, putri kecil ayah makin manis dan makin cantik saja.” Sang ayah mengambil putrinya dari gendongan sang ibu. Si anak batita mengalungkan kedua tangan kecilnya di leher sang ayah dan menyandarkan kepala di pundak ayahnya dengan senyum yang sangat manis.

Sang ayah pun memandang istrinya sambil berkata, “Yang terbaik untuk yang paling akhir. Hai, sayang? Kamu pasti lelah menjaga mereka semua. Kamu sudah bekerja keras.” Katanya kemudian memberikan ciuman yang panjang dan lama.

Aku cukup terkejut melihat ekspresi kasih sayang seperti ini di tempat umum mengingat kita sebagai orang yang menganut budaya Timur jarang melakukannya. Melihat kerinduan dan kelegaan yang terpancar dari wajah orang-orang di keluarga ini, aku jadi penasaran sudah berapa lama pasangan ini menikah dan berpisah?

“Maaf Pak, kalau boleh tahu sudah menikah berapa lama? Kok mesra sekali?” tanyaku penasaran.

“Hm, kami sudah menikah empat belas tahun. Anak pertama kami, Rama, sudah berusia dua belas tahun,” jawab sang ayah bangga.

“Oh. Lalu memang Bapak sudah pergi berapa lama? Kok sepertinya semua begitu merindukan Bapak?” tanyaku lagi. Aku tahu pertanyaanku cukup lancang, namun aku benar-benar penasaran.

“Saya hanya pergi dua hari ke luar kota.”

Dengan wajah tak percaya, aku berkata kecil, “Saya berharap bisa memiliki pernikahan seperti yang Bapak miliki.”

Sang ayah tersenyum sambil berkata, “Jangan berharap, tapi putuskan dan lakukan!”

(ldy/rut)

Related Posts