The Power of Optimistic

Gemintang.com – Suatu pagi, seorang lelaki pergi dengan gembira ke tempat dimana ia bekerja. Suasana pagi dengan udara yang sejuk, bunga-bunga yang bermekaran diiringi ragamnya kicauan burung, sungguh, hari itu adalah hari yang sangat indah. Ia pun menyapa orang-orang yang dikenalnya dengan senyuman.

Kebiasaannya yang selalu melempar pujian membuat tak sedikit orang menyukainya. Terlebih, dia bukan hanya sekedar karyawan, melainkan seorang Human Resources Department yang telah menjalani kariernya selama puluhan tahun. Hingga kini, kariernya cukup berjalan baik.

Setibanya di kantor, tak ada yang berbeda dengan hari-hari biasa ia bekerja. Ia mulai membuat kopi, pergi ke pantry dan berbincang ringan dengan rekan kerjanya yang juga membuat kopi. Jam kerjanya sendiri dimulai pukul 08.30 pagi. Dan tepat di jam itu pula HRD kembali ke mejanya.

Namun belum saja sampai ke tempatnya, seorang karyawan lain berkata bahwa dia harus menemui CEO segera. Dengan optimis, ia pun melangkahkan kakinya menuju ruang pimpinan saat itu juga.

HRD       : “Selamat pagi, Pak”

CEO        : “Oh ya, masuk”

HRD       : “Ada yang bisa saya bantu, Pak ?”

CEO        : “Begini, saya hanya akan sedikit mereview mengenai kinerja kamu selama ini. Kamu, terutama bagi saya, cukup memiliki andil besar dalam memajukan perusahaan. Mungkin kamu ingat bagaimana kita berpikir keras saat karyawan demo beberapa waktu lalu. Kita juga bahkan sempat kehilangan beberapa klien karena satu dan lain hal. Tapi peran kamu sungguh sangat membantu saat itu. Saya ucapkan terimakasih karena kamu bersedia bertahan sampai dengan saat ini.”

HRD       : (Merasa optimis dengan perkataan itu, ia pun segera melayangkan pikiran akan adanya peluang promosi serta kenaikan gaji) “Ya, Pak, lalu?”

CEO        : “Namun kembali kepada pertimbangan para pimpinan, juga aturan yang telah ditetapkan perusahaan, saya dengan berat hati terpaksa harus menggantikan kamu dengan orang yang akan kami calonkan berikutnya.”

HRD dengan rasa terkejutnya lalu bertanya, “Apakah saya melakukan kesalahan? Adakah penjelasan lain yang bisa saya terima atas keputusan ini? Setelah Anda melempar pujian, mengapa justru ini yang saya dapatkan?”

CEO pun terdiam. Ya, memang bila dikatakan kesalahan apa yang telah HRD lakukan, jawabannya tentu akan sangat sulit diungkapkan. Dia pun berlalu dan meninggalkan HRD dengan pertanyaannya yang belum terjawabkan. Bila Anda adalah HRD tersebut dan Anda mengalami pemecatan seperti itu, apa yang akan Anda lakukan?

HRD beranjak dari tempat duduknya dan menyusul langkah CEO. “Pak, maafkan saya, saya tidak akan keluar dari perusahaan ini sebelum saya tahu betul alasan dari pemecatan saya. Saya tidak akan meninggalkan perusahaan ini ditengah rekan kerja yang mungkin akan berpikir buruk setelah saya pergi. Saya bergabung secara baik-baik, maka akan keluar dengan cara yang baik pula. Saya akan pikirkan kapan saya siap untuk mengundurkan diri.”

CEO tertegun. Sebelum ini, dia juga sempat memecat office boy yang dirasa kurang apik bekerjanya. Saat itu office boy mengungkapkan, “Pak, maafkan saya saat masih membiarkan lantai basah hanya untuk mengangkat telpon dari anak saya. Saya berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Saya akan lebih tegas kepada anak saya untuk tidak menelpon saat jam kerja”

Lanjutnya lagi, “Bahkan saya akan meminta bagian operator untuk tidak menyambungkan telpon itu kepada saya. Bila hari ini saya dipecat, anak dan istri saya akan makan apa, Pak. Dan bagaimana saya menjamin pendidikan dan kesehatan keluarga saya?”

Well, nothing impossible, right? Tidak ada yang mustahil bahkan untuk satu hal yang sangat kita yakini bahwa hal tersebut sungguh tidak akan pernah terjadi. Kita seringkali lupa, bahwa ada banyak hal yang bisa menggagalkan satu rencana bila Tuhan tidak menghendakinya.

Segala hal buruk yang mungkin suatu saat akan terjadi, bagaimana cara menyikapinya? It’s so simple. Kamu hanya perlu memilih dua hal, menjadi pesimis setelah hal tersebut menimpamu dan lalu kamu tertekan karenanya, atau optimis bahwa semua akan tetap baik-baik saja sepanjang kamu mampu mempertahankannya.

Seorang yang pesimis hanya bisa melayangkan tanda tanya besar tentang apa yang harus ia lakukan dan lalu menunggu keajaiban datang. Sedangkan seorang yang optimis, ia tahu bahwa ia butuh rencana yang lebih baik ke depan.

Tetap semangat dan teruslah berfikir positif!

foto: art.com

(mir/rut)

Related Posts