Komikus Muda Kebanggaan Indonesia

Photo by kompas.com

Gemintang.com – Banyak cara yang bisa dipilih untuk menikmati masa muda, mulai dari hang out dengan teman-teman, belajar bersama, mengikuti berbagai jenis kompetensi atau ada juga yang menjalankan hobinya seperti salah satunya menggambar komik.

Komik bagi sebagian orang dijadikan sebuah hiburan saat kejenuhan datang. Tapi ternyata hal itu tidak berlaku bagi beberapa komikus muda yang ingin mengembangkan hobi membaca komiknya menjadi sebuah kebanggan bagi Indonesia. Beberapa kawula muda ini berhasil menelurkan banyak karya dan karya-karya tersebut berhasil mendapat apresiasi di luar dugaan di dunia internasional. Siapakah para komikus muda yang berhasil mengharumkan nama Indonesia?

1. Christiawan Lie

Anak pertama dari tiga bersaudara pasangan Lie Hong Ing dan Tan Hwa Kiem ini berhasil menembus pasar komik dunia dengan menghasilkan sebanyak 40 komik. Keempat puluh komik karyanya ini telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa. Kebanggaan Indonesia tidak hanya berhenti begitu saja karena Lie adalah salah satu illustrator dalam pembuatan komik Transformers dan G.I. Joe, komik G.I. Joe itu sendiri adalah karya komersil pertama dari Lie setelah sebelumnya membuat komik pertama dari adaptasi animasi Centurion yang pernah ditayangkan di stasiun tv nasional.

Siapa yang bisa menyangka lulusan Arsitek dari Institut Teknologi Bandung pada tahun 1997 ini adalah satu-satunya komikus Indonesia yang bisa unjuk gigi di ajang San Diego Comic – Con pada Juli 2006 silam. Dalam ajang ini, karya terbaru Lie yang berjudul “Return to Labyrinth” pun laku terjual hanya dalam dua hari saja.

Meskipun Lie sudah melanglangbuana di Amerika tapi Lie masih dengan bangga memakai Indonesia sebagai kewarganegaraannya. Benar-benar berita yang membanggakan dari seorang anak bangsa yang sudah mengharumkan nama Indonesia. Menurut pengakuan Lie, diluar proyek yang sedang digarapnya saat ini ada satu kerinduan yang ingin diwujudkannya yaitu berkolaborasi dengan penulis Indonesia dalam membuat graphic novel. Mudah-mudahan kerinduannya ini terbayarkan dan semakin memajukan nama Indonesia di mata dunia lewat komik buatannya.

Karya-karya Lie lainnya selain G.I. Joe Sigma 6, G.I. Joe Arashikage Showdown, dan Return to Labyrinth adalah Josie and The Pussycats short stories sebanyak 12 buku dan Dungeon and Dragons : Eberron volume 1.

2. Ardian Syaf

Pasar Amerika memang menjadi batu loncatan yang menjanjikan bagi barang siapa yang ingin mewujudkan mimpinya. Salah satu yang sudah mulai mewujudkan mimpinya itu melalui komik adalah Ardian Syaf. Pria kelahiran Tulung Agung, Jawa Timur ini mengakui sudah mencoba untuk menawarkan karyanya namun respon yang didapat kurang baik. Setelah mendapat informasi tentang lowongan menjadi komikus di luar negeri, dia pun mencoba memasukkan karyanya.

Setelah banyak mencoba akhirnya karyanya pun dihargai oleh penerbit komik independent Amerika. Meskipun hanya dibayar dengan seadanya, tapi itu tidak mengurungkan kecintaannya terhadap komik. Hingga akhirnya dia berhasil bergabung dengan sebuah agensi para komikus dunia bernama Nutopia. Berawal menjadi fill in artist di DC Comic, Ardian pun menjadi artist utama dalam pembuatan komik Batman dan lainnya.

Siapa yang menyangka kalau ada warga Indonesia yang ikut andil dalam pembuatan komik dari tokoh hero yang mendunia ini. Karya-karya yang pernah dihasilkan Ardian antara lain The Dresden Files 11, The Balckest Night sebanyak tiga seri yang diterbitkan berturut-turut dari Agustus hingga Oktober.

3. Duet Muhammad Fathanatul Haq dan Ockto Baringbing

Meskipun belum seperti dua seniornya, Chritiawan Lie dan Ardian Syaf, karya dua anak bangsa ini juga berhasil membawa harum nama Indonesia dalam ajang Internartional Manga Award yang diselenggarakan di Jepang. Dengan penghargaan Silver yang didapat, keduanya sukses mengalahkan 244 karya lainnya lewat karya mereka yang berjudul “5 Menit Sebelum Tayang”. Meskipun medali emas diraih Negara Thailand, tapi karya keduanya bisa dijadikan contoh untuk kawula muda agar mengisi masa mudanya dengan kegiatan positif.

4. Beng Rahadian

Lahir di Cirebon 29 Mei 1976, pria yang pernah bersekolah di Sekolah Menangah Seni Rupa Yogyakarta ini sepak terjang kariernya di dunia perkomikan Indonesia cukup diperhitungkan. Beng, begitu ia biasa disapa, telah berhasil melahirkan komik-komik yang terkenal salah satunya adalah “Selamat Pagi Urbaz”. Kecintaan Beng dengan komik dimulai dari kebiasaannya membaca komik. Dan karena keluarganya anggota perpustakaan, maka Beng sering mendapat kemudahaan dalam meminjam komik di perpustakaan tersebut. Dari situlah hobi dan bakat Beng dalam dunia perkomikan dimulai.

Debut Beng sebagai komikus muda dimulai sejak tahun 1994. Sambil bersekolah, ia bekerja di Studio Animac, Bandung. Saat dirinya menetap di Jogja, Beng mempunyai komunitas pecinta komik yang bernama Teh Jahe. Komunitasnya ini membawa Beng semakin giat dalam mengeksplor kecintaannya dalam dunia penggambaran komik. Setelah pindah ke Jakarta, Beng bersama kedua temannya, Hikmat dan Zarki membentuk sebuah wadah bagi para komikus untuk berkumpul, berdiskusi, dan berbagi pendapat yang bernama Akademi Samali.

Beng berujar bahwa karya-karya yang dihasilkannya kebanyakan dipengaruhi oleh komikus kawakan yaitu R.A Kosasih. Dan pada tahun 2005, Beng pernah melakukan “trip” ke Kamboja untuk urusan perkomikan. Kini selain karyanya yang terkenal yaitu  “Selamat Pagi Urbaz” ada juga “Tidur Panjang” dan “Lotif” .

Komikus-komikus muda lainnya yang sukses di dunia internasional adalah Erfan Fajar, Donny Hadiwijaya, Joko Santiko, Alfa Robi, dimana orang-orang  ini sukses sebagai komikus muda dari Indonesia di Amerika dan juga Inggris.

(lyd/rut)

Related Posts