Mangle, Si Pelipur Lara Warga Sunda

Gemintang.com – Jangan mengaku orang Sunda kalau tidak tahu apa itu Mangle. Majalah bulanan berbahasa Sunda yang terbit tiap satu bulan sekali ini punya hubungan yang erat dengan warga Jawa Barat. Atas gagasan RH Oeton Muchtar Syafei dan RHE Rohamina Sudarmika, majalah Mangle terbit pertama kali pada tanggal 19 November 1957 yang kemudian dijadikan sebagai titimangsa atau hari kelahiran majalah Mangle.

Sama seperti pers Sunda lainnya, Mangle ada atas kepedulian beberapa orang terhadap budaya Sunda. Mangle sendiri artinya untaian bunga yang harum yang biasa digunakan sebagai hiasan kepala pengantin perempuan. Jadi tak heran mengapa setiap model yang terpajang di sampul majalah selalu menampilkan wajah-wajah berparas cantik.

Mangle hadir sebagai penyejuk hati dan pelipur lara. Hal tersebut dapat dilihat dari beragam rubrik hiburan yang ada di dalamnya seperti cerita pendek, cerita bersambung, sajak puisi, dongeng, humor, cartibag atau cerita tiga bagian, hingga rubrik jajak pendapat mengenai budaya Sunda.

Beragam rubrik menarik inilah yang menjaring banyak pembaca. Bahasa yang dipakai pun menggunakan bahasa Sunda pergaulan, bukan bahasa kasar atau halus. Di masa kejayaannya, warga Sunda yang membaca majalah ini termasuk ke dalam golongan orang-orang gaul.

Keberadaan Mangle yang mampu bertahan hingga saat ini tentu bukan tanpa halangan dan rintangan. Awalnya kantor redaksi majalah Mangle berada di daerah Bogor dan kemudian pada tahun 1962 pindah domisili ke Bandung. Meskipun saat itu jumlah oplah terus menurun namun Mangle masih dapat bertahan.

Selain itu di saat majalah serupa lainnya gulung tikar, Mangle tetap bisa bertahan meskipun krisis ekonomi pada tahun 1998 sempat menghantam Indonesia. Kini satu-satunya majalah yang dapat disandingkan dengan Mangle hanyalah Galura yang terbit sejak 20 Mei 1972.

Hingga kini oplah Mangle hanya tinggal 4.000 ekslempar yang sebagian besar mengandalkan pelanggan-pelanggan pribadi serta kantor-kantor pemerintah dan sekolah-sekolah di Jawa Barat. Jika dibandingkan dengan tahun 1970-an, kejayaan Mangle sekarang memang bisa dibilang redup. Perilaku pembaca yang berubah-ubah serta lambatnya inovasi yang dilakukan pihak redaksi memengaruhi jumlah pembaca dan oplah yang diproduksi.

Pihak redaksi pun beberapa kali pernah mencoba menerbitkan Mangle versi online namun respon yang didapat dari pembaca rupanya tidak memuaskan. Kini Mangle berkantor di sebuah gedung tua yang merupakan gedung bekas percetakan. Percetakan majalah Mangle sendiri menumpang pada sebuah surat kabar lokal.

Tempat Lahirnya Sastrawan Sunda

Beragam rubrik menarik yang ada di majalah Mangle tak dapat dipungkiri telah melahirkan banyak sastrawan Sunda seperti Saini KM, Wahyu Wibisana, Dudu Durahman, Ami Raksanagara dan Acep Zamzam Noor. Bagi sebagian besar masyarakat Sunda, Mangle bukan hanya memberikan pengaruh besar bagi dunia literasi Sunda tetapi juga sebagai identitas yang melekat bagi para pembacanya.

foto: mangle-online.com/sundanews.com

(rut/rut)

Mangle, Si Pelipur Lara Warga Sunda silky

Review

Mangle, Si Pelipur Lara Warga Sunda

Summary: Mangle, Si Pelipur Lara Warga Sunda

5

Good

User Rating: 0 (0 votes)

Related Posts