Lukisan Ida Bagus Indra

Photo by gemintang.com

Gemintang.com – Indonesia mempunyai banyak sekali pelukis muda yang berbakat. Namun dari sekian banyak itu, ada sedikit pelukis Indonesia yang bisa dikategorikan sebagai pelukis muda maestro. Salah satunya adalah Ida Bagus Indra. Saat usianya menginjak angka 30, pria yang biasa disapa dengan IBI ini sudah berani menggelar pameran tunggal di Australia. Dan kini, karier pria yang lahir pada tahun 1975 ini pun semakin bersinar berkat ratusan karya yang telah dihasilkan melalui tangan dinginnya.

Presiden SBY juga memilih salah satu karya IBI sebagai hadiah yg diberikan kepada Sang Ratu Inggris sebagai cinderamata. Lukisan yg berjudul Mother of Beauty diberikan setelah Ibu Ani Yudhoyono menerima cinderamata dari Ratu berupa Lilin dan porselain bunga. Secara garis besar, karya rupa IBI bisa dikategorikan ke dalam dua kutub yang bersebrangan, namun saling melengkapi. Masing-masing kutub lukisan IBI mempunyai cabangnya sendiri-sendiri. Kutub pertama adalah karya-karya yang temanya merupakan ekspresi relijiusitas IBI, yakni Hindu Bali, yang sarat dengan kultur kepercayaan-kepercayaan hubungan manusia dengan kekuatan di luar diri mereka. Karya-karya IBI dalam kutub ini merupakan visualisasi ekspresif terhadap wilayah yang seharusnya berada dalam tangan kepanditaan.

Ini bisa dimaklumi, pasalnya IBI adalah keturunan keluarga brahmana. Dengan demikian unsur-unsur relijiusitas yang bersinggungan dengan hubungan antar manusia dengan Penciptanya, serta segala ikhwal kegiatan yang bisa menciptakan hubungan yang mengantar hubungan diatas mendominasi karya-karya IBI.

Karya-karya IBI sarat dengan imaji-imaji niskala dewi-dewi, manifestasi Ketuhanan serta penggambaran alam atau dimensi spiritual – surga dan neraka. IBI adalah perupa yang juga prolific. Di antara banyak lukisannya, hampir semua memiliki catatan deskriptif, sehingga penikmat seninya akan terbantu dengan deskripsi spiritual ini dalam katalogusnya. Melalui karya-karyanya, kita dapat menyimpulkan IBI adalah perupa muda yang konsisten menyikapi keseniannya dengan keseriusan dan intensitas tinggi.

  •  Joget, Tetarian 

Mengamati karya-karya IBI dalam period joged, membawa kita pada suasana lain karena memberi nuansa yang rancak dan dinamis. Karya-karya IBI dalam dalam kutub ini sifatnya adalah sekular (non-agamawi atau non-spiritual).

Pasalnya, serupa dengan tetarian jenis lain yang bisa disaksikan di penjuru tanah air, tetarian di kanvas IBI terfokus pada ritme-ritme sosok perempuan dalam pose penari yang sering menjadi pendamping suatu acara kerakyatan atau kerajaan. Seni pertunjukan, tetarian, joged yang menjadi inspirasi pendamping dalam karya IBI juga muncul di berbagai karya rupa joged oleh seniman-seniman lain, baik itu dalam lukisan tradisional (batuan, lukisan kuno cersi keratonan) maupun yang modern ekspresif.

Seringkali dalam menghasilkan karyanya, IBI melakukan ritual di suatu tempat sakral baik itu Pura ataupun Danau yg dimulai dengan upacara pujawali. Upacara Pujawali (piodalan) merupakan salah satu bentuk pelaksanaan suatu korban suci yang dilakukan oleh umat Hindu ditujukan kehadapan Ida Hyang Widhi dan Para Dewa sekalian. Pujawali juga mengandung makna bahwa segala yang ada di alam semesta ini yang diciptakan oleh Sang Hyang Widhi dipersembahkan kembali oleh manusia kepadaNya sebgai pernyataan rasa terimakasih. Segala bentuk syukuran dan dilengkapi tari-tarian diiringi musik khas Bali dipersembahkan dalam upacara tersebut. Saat itulah IBI mulai berkreasi dan menorehkan kuas nya menjadi lukisan yg indah.

Lukisan akrilik IBI berjudul Pujawali Ring Pura Lempayung  Lukisan akrilik Ida Bagus Indra berjudul Pujawali Ring Pura Lempuyang/Tarian Sakral di Pura Lempuyang (2012).

pura_lempuyang

Pura Lempuyang.

  •  Tetarian ritual dan prosesional

Mengamati karya IBI terkini, yang masing-masing disuguhkannya sebagai satu set karya dengan beberapa panel lukisan yang bertuturan. Dalam istilah senirupa kita mengenal dengan istilah dyptich atau triptych, yaitu satu lukisan yang terdiri dari dua atau tiga panel, maka lukisan IBI terdiri dari delapan atau lebih. Mengamati lukisan IBI yang seperti ini membuat kita bagaikan menikmati satu penggalan strip film, yang satu sama lain tidak bisa terpisahkan. Layaknya sebuah strip film, panel-panel kanvas IBI mengekspos satu gerakan yang diambil dengan lensa yang berbeda.

Dari masing-masing seperangkat karya yang terdiri dari beberapa bagian ini, kita bisa mengambil kesimpulan ringkas bahwa dimasing-masing karya tersebut terdapat mood – facial expression (digambarkan dengan bagian wajah penari dengan pandangan sensual tapi terkadang juga sendu) serta gerakan-gerakan bagian tubuh tertentu seperti pinggul, badan dan area dada.

Karya rupa IBI dengan tema tetarian ini ditujukan bukan semata untuk merekam sejarah perkembangan tetarian di Bali, karena masing-masing karya IBI memang tidak merujuk pada satu tetarian tertentu. Namun, karya ini sebagai ungkapan oleh IBI sendiri berisi: kerinduannya terhadap alam bahagia, dimana penuh rasa senang, ketentraman dala menarikan tarian surga.

Karya tetarian IBI juga mempresentasikan sosok-sosok perempuan yang sebetulnya merupakan penjelmaan bidadari kahyangan. Namun bagaimana seorang IBI yang kasat mata bisa mempresentasikan sosok dewi-dewi ini? Sama seperti proses kreatif ketika ia melukis karya-karya niskala, lukisan IBI dalam kategori tetarian ini juga dilalui dengan mediasi antara ia sendiri dengan sosok-sosok yang ia representasikan kedalam kanvasnya.

Kadang-kadang roh atau sinar dewi-dewi tersebut bisa memasuki raga isterinya yang kemudian akan melantukan tetarian-tetarian anggun. Nah, disaat itulah, kuas serta cat IBI mulai merespon hentakan kendang dan musik, gemulai lekukan tubuh kibasan selendang serta gebyar kipas ditangan sang penari yang sekarang bukan merupakan dirinya sendiri.

Momen-momen seperti ini akan berlangsung begitu cepat, sehingga ia harus mengimbangi gerakan tangan yang cepat untuk merekam vibrasi dan dinamika tetarian kayangan ini. Bagaimanapun proses kreatifnya, lukisan-lukisan tetarian IBI memberikan kesan nan apik, indah, dan penuh hidup.

(gemintang/rut)

Related Posts