Iket & Udeng, Ikat Kepala Asli Indonesia

Photo by twitter.com/iket_sunda

Gemintang.com – Budaya Indonesia bukan hanya tercerminkan lewat berbagai suku, pakaian daerah, adat, tarian, dan rumah adatnya saja, tapi juga dari berbagai asesoris yang dibuatnya, seperti ikat kepala. Di Indonesia ada beberapa jenis ikat kepala yang berbeda sesuai dengan suku atau daerahnya yang dapat terlihat dari bentuk ikat kepalanya.

Biasanya bentuk ikat kepala ini menunjukkan status sosial seseorang di tengah masyarakat. Selain itu, motif, corak, atau warna ikat kepala di tiap daerah pun berbeda. Kali ini Gemintang akan bahas dua jenis ikat kepala yang cukup dikenal masyarakat, baik Indonesia maupun dunia. Mau tahu keunikan tiap ikat kepala itu? Langsung simak saja penjelasan berikut ini.

  • Iket dari Sunda

Iket atau biasa juga dikenal dengan nama totopong merupakan salah satu atribut khas dari Sunda. Arti Iket dalam budaya Sunda adalah agar si pemakai tidak lupa atau keluar dari nilai-nilai leluhur Sunda. Dengan kata lain, Iket merupakan tanda bahwa si pemakai memiliki pikiran yang teguh dan tidak gampang goyah. Iket terbuat dari kain polos atau kain batik berukuran sekitar 1 m2. Ada juga iket setengah yang memiliki ukuran setengah meter dan bentuk kain terbelah tengah secara diagonal.

Photo by twitter.com/iket_sunda

Photo by twitter.com/iket_sunda

Dalam tradisi Sunda ada dua macam Iket, yaitu Iket buhun dan rekaan. Iket buhun merupakan ikat kepala sehari-hari masyarakat Sunda dengan pola ikatan yang masih asli, tanpa modifikasi. Lain halnya dengan iket rekaan yang bentuk ikatannya bebas sesuai keinginan si pemakai. Ada jenis Iket khusus yang hanya digunakan oleh para sesepuh masyarakat, yaitu Iket Ki Lengser.

  • Udeng dari Bali

Udeng merupakan ikat kepala tradisional masyarakat Bali yang biasa dipakai oleh berbagai kalangan, dari anak-anak sampai sesepuh. Udeng terbuat dari kain dengan ukuran panjang kurang lebih sekitar setengah meter, dengan bentuk asimetris bilateral dengan sisi sebelah kanan lebih tinggi dari sisi kirinya.

Photo by dlancang.tumblr.com

Photo by dlancang.tumblr.com

Secara filosofis, makna dari bentuk asimetris ini adalah semua orang harus berbuat kebajikan. Udeng digunakan sehari-hari dan dalam aktivitas keagamaan. Corak udeng pun beragam, dari warna polos, bercorak, metalik, batik, dan berbagai corak modern. Tapi untuk upacara keagamaan para pria Bali wajib menggunakan Udeng dengan warna putih polos yang melambangkan kesucian.

 

BACA JUGA:

Angklung Masuk Sekolah-Sekolah Amerika

Pusat Kebudayaan Suku Betawi

Pianis Muda Berbakat Kebanggan Indonesia

Putera-Puteri Bangsa yang Berprestasi di Luar Negeri

(ldy/rut)

Related Posts