Cinta dan Otak Kita

Cinta-dan-Otak-Kita

Gemintang.com – Mungkin fase love at the first sight atau cinta pada pandangan pertama sudah tidak asing lagi di telinga, namun apakah hal itu benar-benar ada? Dan ada juga fase lain tentang cinta yang cukup terkenal yaitu blind love atau cinta buta. Apa hal ini mungkin terjadi? Sebenarnya, apa sih cinta itu?

Para pujangga, seniman, bahkan ahli-ahli filsafat kenamaan bergelut dengan definisi cinta. Cinta, satu hal yang mampu memporak-porandakan sebuah negeri (kisah Troy), mendorong manusia melakukan suatu hal yang luar biasa (pembangunan Taj Mahal), dan ada orang yang rela mati karenanya.

Nah, bagaimana dengan pendapat para ilmuwan abad ini? Seorang profesor kedokteran, Tom Sherman, berpendapat bahwa cinta dipicu oleh sekumpulan hormon atau cairan otak. Selain itu, Helen Fisher, seorang antropolog, mengemukakan tiga tahap bagaimana seseorang jatuh cinta:

  1. Hasrat (dipengaruhi hormon testosteron dan estrogen), biasanya timbul akibat dorongan seksual.
  2. Ketertarikan (dipengaruhi hormon adrenalin, dopamin, dan serotonin), terjadi dengan ditandai oleh jantung yang berdegup kencang, darah mengalir dengan cepat, muka memerah, semangat meningkat, wajah sang kekasih selalu terngiang.
  3. Keterikatan (dipengaruhi hormon oksitosin dan vasopressin), hormon ini terpicu bila kita mulai merasa aman dan menjalin ikatan permanen dengan seseorang dalam waktu panjang (pacaran atau pernikahan).

Nah, kalau begitu bagaimana dengan cinta pada pandangan pertama atau cinta buta?

Menurut para ahli, cinta pada pandangan pertama atau love at the first sight mungkin saja terjadi. Namun pada umumnya hal ini terjadi berdasarkan ketertarikan fisik atau bahasa tubuh semata. Sedangkan mengenai cinta buta, disebutkan bahwa cinta buta ada karena manusia perlu merasa spesial; merasa mereka memiliki hubungan yang lebih dari yang orang lain miliki.

Pasangan yang baru berpacaran atau menikah akan cenderung menutupi atau mengurangi kekurangan masing-masing dan membesarkan atau berfokus pada kelebihan yang dimiliki pasangannya. Jadi, cinta buta itu mungkin terjadi.

Satu hal yang pasti, cinta merupakan hal universal yang semua orang miliki dan dambakan. Keputusan untuk mencintai seseorang, baik keluarga, teman, ataupun pasangan kita dibuat dengan penuh kesadaran sesuai dengan nilai-nilai dan norma yang membentuk pribadi setiap orang.

foto: theshedonline.org.au

(ldy/rut)

Related Posts