Soal Penyadapan, RI Tak Rugi Jika Putuskan Hubungan Bilateral dengan Australia

Photo by dw.de

Gemintang.com – Tanah Air dibuat gempar dengan pemberitaan tentang penyadapan yang dilakukan oleh negara Australia dan Amerika Serikat. Sejumlah pembicaraan telepon para petinggi negara dari mulai presiden SBY, ibu negara, hingga Yusuf Kalla berhasil di sadap. Bukan hanya itu, pembicaraan saat Konfrensi Iklim PBB di Bali yang diselenggarakan pada tahun 2007 silam juga ikut di sadap.

Permasalahan intelijen ini pun semakin menuai kritik tajam dari banyak kalangan karena perdana menteri Australia, Tony Abbott enggan meminta maaf namun mengaku menyesali permasalahan ini. Abbot mengatakan bahwa tindakan yang negaranya lakukan adalah hal lumrah sebagaimana ia ingin melindungi sekutu dan negara-negara tetangganya.

Permasalahan ini mencuat ke permukaan ketika seorang mantan pegawai kontrak intelijen AS, Edward Snowden membocorkan bahwa Australia telah lama memata-matai Indonesia melalui kedutaan besarnya. Mengetahui hal ini, presiden Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono mendapat desakan agar segera menanggapi kasus ini secara serius.

Menurut anggota komisi III DPR, Eva Kusuma Sundari mengatakan, Indonesia tak perlu takut jika hubungan bilateral Indonesia dan Australia di cut. Dari sisi ekonomi, tanpa bergantung kepada Australia pun negara ini akan tetap “hidup” karena investor terbesar Indonesia hingga saat ini adalah Jepang, China dan Amerika Serikat.

“Stop impor daging pun tidak masalah. Kita masih bisa beralih ke India. Begitupun untuk urusan terorisme.” Ujar politikus dari partai banteng bermoncong putih ini.

Kini setelah menarik duta besar Indonesia di Australia, presiden SBY dikabarkan telah menghentikan hubungan kerjasama militer dengan negara Kangguru tersebut. Latihan bersama militer angkatan darat laut dan udara saat ini sedang dihentikan. SBY juga sempat curhat mengenai rasa kekesalannya atas sikap Australia melalui akun twitternya.

“Sejak ada informasi penyadapan AS & Australia terhadap banyak negara, termasuk Indonesia, kita sudah protes keras.” tulisnya.

“Saya juga menyayangkan pernyataan PM Australia yang menganggap remeh penyadapan terhadap Indonesia, tanpa rasa bersalah” sambung SBY.

Tindakan penyadapan sesungguhnya dilakukan agar si penyadap dapat terlebih dahulu mengetahui informasi dari negara lainnya. Padahal hal tersebut bertentangan dengan norma yang telah ada dalam Konvensi tentang hubungan diplomatik.

Menteri Luar Negeri Indonesia, Marty Natalegawa pun telah mengirimkan surat protes dan mendesak agar dua negara tersebut, Australia dan Amerika dapat memberikan penjelasan atas tindakannya. Dan meskipun pihak pemerintah Australia tidak meminta maaf secara langsung namun beberapa rakyat Australia menuliskan permintaan maaf dan dipasang di beberapa surat kabar Australia.

BACA JUGA

Arnold Schwarzeneger Ingin Jadi Presiden

Politikus Tegas Bernurani, Angela Marker

Tentang Tasripin dan Twitter SBY

(ysf/rut)

Related Posts