Petenis Cantik Asal Rusia, Maria Sharapova

Foto by mariasharapova.com

Gemintang.com – Lahir di Serbia pada tanggal 19 April 1987, anak dari pasangan Yuri Sharapova dan Yelena ini  ternyata mempunyai bakat yang luar biasa dalam bidang olahraga tenis. Ia yang lahir kurang lebih setahun setelah peristiwa meledaknya pembangkit listrik tenaga nuklir Chernobyl di Ukraina ini mampu menoreh sejarah dan prestasi yang membanggakan. Akibat peristiwa Chernobyl itu, sang ibu Yelena, dan suaminya memutuskan untuk pindah ke daerah Nyagan, Siberia dari tempat dimana mereka tinggal saat itu guna menghindari dampak radioaktif. 

Kecintaan Maria Sharapova kepada tenis ternyata merupakan turunan dari kedua orangtuanya. Yuri Sharapova dan Yelena menyukai olahraga tenis dan sang ayah untuk pertama kalinya memberikan putrinya sebuah raket pada usianya yang masih balita. Raket yang diberikannya pun bukan raket sungguhan, Yuri Sharapova membuat sebuah raket rakitan yang dibuatnya dengan tangannya sendiri sesuai dengan ukuran tubuh Maria kecil saat itu. Sang Ayah mengajarkannya bagaimana memukul bola dengan baik dan benar dan tak disangka ternyata Maria belajar dengan cepat apa yang diajarkan oleh ayahnya. Dan ketika Maria berusia enam tahun ia bertemu dengan Martina Navratilova, petenis kenamaan yang pernah memenangkan enam kali pertandingan Wimbledon dalam sesi tunggal putri dalam perjalanan yang dilakukannya ke Moskow. Martina sangat terkesan dengan bakat yang ada di dalam diri Maria dan menyarankan kepada kedua orangtua Maria untuk memasukkannya ke sekolah tenis di Bradenton, Florida. Dimana sekolah itu merupakan sekolah asrama yang telah mencetak atlet-atlet sukses seperti Agassi (1970), Pete Sampras (1971), dan Monica Seles (1973 ).

Setelah mendapat wejangan dan menimbang kembali saran yang diberikan oleh Martina Navratilova, Keluarga Sharapova akhirnya memutuskan untuk pindah ke Florida. Namun masalah visa membuat Yelena tidak dapat pindah bersama-sama ke Florida. Butuh waktu dua tahun baginya untuk pindah kesana menunggu urusan yang bersangkutan dengan visa dan kependudukannya selesai.

Halangan belum selesai, ternyata tak mudah bagi Maria masuk ke akademi tenis itu. Usianya yang saat itu menginjak umur tujuh tahun ternyata mendapat penolakan dari pihak sekolah. Mereka berujar bahwa orang yang dapat masuk kedalam akademi tenis itu hanya orang-orang yang mendapat undangan saja atau bisa dibilang melalui jalur khusus. Mau tak mau akhirnya Maria menunggu dua tahun untuk kembali masuk ke sana. Di usianya yang telah mencapai sembilan tahun Maria dan ayahnya kembali ke akademi Bollettieri, disana ia membuktikan dirinya bisa dan sangat baik di akademi tersebut sehingga ia mendapat beasiswa senilai $ 46.000 per tahun. Disanalah karier cemerlang Sharapova dimulai.

Pada usia sebelas tahun ia menandatangi kontrak dengan pelatih Robert Lansdorp, pelatih yang pernah membimbing karier Peter Sampras serta Tracy Austin yang pernah memenangkan dua kali kejuaraan US open. Prestasi pertama yang disabetnya adalah kejuaraan Australia Open di usianya yang ketiga belas tahun saat ia masih duduk di bangku SMP. Ia memulai karier secara profesioal pada tahun 2001 dalam ajang turnamen WTA pertamanya di Pacific Life Open yang diselenggarakan pada tahun 2002. Di tahun yang sama ia melanjutkan untuk kembali bersaing di final junior dari Australia Open yang kedua dan Wimbledon. September 2003, di Turnamen Tokyo ia mengalahkan Aniko Kapros dari Hungaria. Juni 2004 ia mengalahkan Tatiana Golovin di Turnamen Inggris di Birmingham dimana Tatiana merupakan teman satu akademinya di akademi tenis Bollettieri. Prestasi lain yang di raih Maria di tahun 2004 adalah ia memenangkan kejuaraan Wimbledon setelah sukses mengalahkan Ai Sugiyama, Lindsay Davenport dan Serena Williams dibabak semifinal dengan skor 6-1, 6-4. Kariernya pun makin bersinar sejak saat itu.

Wanita yang hobi mengumpulkan perangko sejak kecil ini ternyata juga penggemar dari karya Arthur Conan Doyle yaitu Sherlock Holmes. Ia betah membaca buku yang ia sukai berlama-lama. Selain itu, karena kecantikannya pula ia didaulat sebagai model dari barang elektronik yang dikeluarkan oleh Canon, ia juga sempat menjadi model dari contoh-contoh pakaian olahraga yang diciptakan oleh produsen Nike.

Tahun 2007, ia kembali menjadi unggulan nomor satu di Australia Open hingga final turnamen tersebut. Namun sayang, ditahun yang sama pula ia mendapat cedera bahu yang akibatnya mengganggu produktifitas Sharapova dalam turnamen-turnamen lainnya. Sempat vakum untuk waktu yang cukup lama, 2008 Sharapova kembali bangkit dan membuktikan eksistensinya di dunia tenis setelah menjalani operasi akibat cederanya tersebut. Karena hal itu pula peringkat Sharapova sebagai pemain tenis professional jatuh ke urutan 126. Namun di tahun 2009 ia kembali bangkit dan memulihkan peringkatnya melalui kemenangan-kemenangan yang di dapat di France Open serta turnamen-turnamen bergengsi lainnya yang dapat mengembalikan peringkat 14 sebagai permain tenis terbaik dunia.

Kini jejak riwayat Sharapova di dunia tenis memang tidak bisa diragukan lagi. Selain itu, setelah dua tahun berpacaran dengan pemain NBA, Sasha Vujacic, mereka pun akhirnya memutuskan untuk bertunangan. Pundi-pundi uang yang dikumpulkan Sharapova pun bukan hanya ia nikmati sendiri, wanita yang satu ini ikut aktif dalam kegiatan menyumbang dana pada organisasi-organisasi amal. Uang sebesar $ 210.000 tak sungkan ia berikan untuk mengalang dana bagi proyek pemulihan Chernobyl. Semangat dan kedermawanannya memang patut di contoh!

(rut/rut)

Related Posts