Aluk Todolo Orang Toraja

Aluk-Todolo-Toraja

Gemintang.com – Indonesia sungguh merupakan negara yang kaya akan budaya. Warisan budaya Indonesia tidak hanya dituangkan dalam bentuk tarian, busana, bahasa, dan perangkat adat, tapi juga dalam bentuk aturan hidup yang diwariskan secara lisan. Bagi orang Toraja yang tinggal di Dusun Kanan,Tana Toraja, aturan hidup ini masih diyakini dan dijalankan. Mereka menyebutnya “Aluk Todolo”, yang berarti aturan nenek moyang.

Aluk Todolo adalah kepercayaan masyarakat Mamasa sebelum masuknya agama sesawi di Tana Toraja. Dalam kepercayaan Aluk Todolo, penguasa tertinggi adalah Puang Matua, artinya Tuhan Maha Mulia. Ajaran Aluk Todolo menekankan pada pentingnya kebenaran dan kejujuran.

Setiap tindakan tidak jujur atau curang dipercaya akan membawa tulah bukan hanya pada orang itu, namun ke dusun tempat ia tinggal. Sebaliknya, bila Aluk Todolo dijalankan maka akan mendatangkan kedamaian, kemakmuran, dan keamanan pada dusun.

Aluk Todolo mengatur segi kehidupan, seperti pertanian dan ritual keagamaan. Aluk Todolo mengajarkan hari-hari baik dan buruk, penyebab bencana ketika berpergian, kapan dan bagaimana menanam padi, serta tata cara ritual ibadah. Selain itu, kebiasaan saling tolong menolong terutama ketika pesta juga diajarkan.

Tiap desa memiliki detail Aluk Todolo yang berbeda-beda. Tapi semuanya menekankan pentingnya memisahkan antara ritual kehidupan dan ritual kematian.

Simbol-simbol Aluk Todolo terlihat dari bentuk rumah orang Toraja yang menyerupai perahu dan semuanya mengarah ke utara. Menurut kisah turun-temurun, leluhur mereka berasal dari laut di sebelah utara Kamboja.

Selain itu, symbol lain yang terkenal adalah banteng yang melambangkan kesuburan. Sampai saat ini symbol-simbol ini masih dipelihara, bahkan menjadi tujuan utama para turis baik dari dalam maupun luar negeri.

Aluk Todolo yang juga merupakan warisan budaya bangsa layak untuk dikenal dan dipertahankan. Mari kita melihat dan menjaga berbagai kekayaan budaya Indonesia yang tersebar di seluruh penjuru tanah air.

foto: kebudayaanindonesia.net

(ldy/rut)

Related Posts