Kisah Ritual Pemakaman di Tana Toraja

Gemintang.com – Mendengar kata ‘pemakaman’ tentu di pikiran kita terlintas kalimat seperti kematian, dukacita, tangis dan kesedihan. Tak dapat dipungkiri kata tersebut memang identik dengan hal-hal yang muram. Namun ada yang istimewa dengan upacara pemakaman di Tana Toraja, Sulawesi Selatan. Sebelum mengenal lebih dalam ritual pemakaman yang satu ini, yuk ketahui dulu seperti apa suku Toraja itu sendiri.

Toraja adalah salah satu suku di Indonesia yang bermukim di dataran tinggi provinsi Sulawesi Selatan. Sebelum agama Kristen dan Islam masuk ke Indonesia, penduduk suku ini telah menganut kepercayaan animisme yang disebut Aluk To Dolo. Upacara pemakaman Toraja yang unik dan hanya dapat disaksikan di Indonesia ini pun telah ada dari zaman dahulu, Sobat.

Apa Uniknya Pemakaman di Tana Toraja?

Tak seperti upacara pemakaman di daerah lainnya, di Toraja upacara ini berlangsung selama beberapa hari bahkan berminggu-minggu. Tak hanya itu, upacara yang disebut dengan nama Rambu Solo’ ini memerlukan biaya yang sangat besar! Semakin kaya dan semakin berkuasa seseorang, maka upacara pemakaman yang digelar pun semakin meriah dengan biaya yang besar.

Uniknya, mayat orang yang mati biasanya didiamkan untuk waktu yang cukup lama. Bahkan ada yang harus menunggu hingga bertahun-tahun sebelum bisa dilakukan upacara. Selama masa menunggu, mayat tersebut dibungkus dengan beberapa helai kain kemudian disimpan di bawah rumah adat Toraja yang disebut dengan tongkonan.

Hal itu dilakukan supaya keluarga yang merantau ke luar Tana Toraja dapat mengikuti upacara pemakaman keluarga mereka serta pihak keluarga bisa mengumpulkan uang untuk biaya upacara yang memakan biaya tidak sedikit. Orang Toraja percaya bahwa arwah mendiang masih akan terus berada di desa sampai tiba saatnya ia diupacarakan yang sering juga disebut dengan ‘dihantarkan ke nirwana’.

Upacara pemakaman adat Toraja juga identik dengan ritual penyembelihan kerbau. Orang Toraja menyebutnya Tedong Bonga. Harga kerbaunya beragam, berkisar antara Rp. 50 juta hingga ratusan juta tergantung kondisi fisik si kerbau dan coraknya. Tedong Bonga ini kemudian disembelih dengan menggunakan golok.

Selain itu, penyembelihan beberapa kerbau lain serta ratusan babi pun dilakukan sebagai bagian dari ritual. Para pemuda Toraja akan menari dan bernyanyi sembari ‘menangkap’ darah yang menyembur dengan bambu-bambu panjang. Daging hasil sembelihan pun nantinya akan dibagikan kepada tamu yang hadir dan tak lupa untuk dicatat. Hal ini karena daging yang dibagikan akan dianggap sebagai hutang kepada keluarga mendiang yang mengadakan upacara.

Setelah dilakukan serangkaian upacara, peti berisi jenazah mendiang akan dimakamkan dengan tiga cara. Yang pertama diletakkan pada dinding-dinding tebing. Dinding tersebut diukir sedemikian rupa dan pembuatannya memerlukan waktu hingga beberapa bulan. Biasanya hanya orang-orang terpandang dan kaya saja yang meletakkan peti pada dinding berukir ini.

Kedua diletakkan pada gua-gua atau rumah-rumah kecil. Umumnya dalam satu gua berisi beberapa mayat dan merupakan makam keluarga. Tau Tau adalah patung yang terbuat dari kayu, diletakkan pada sisi gua dan dihadapkan keluar. Berbeda halnya dengan kematian bayi dan anak-anak yang petinya hanya digantung dengan tali pada tepian tebing. Tali ini biasanya akan membusuk dan menjatuhkan peti tersebut setelah satu tahun berlalu.

Bagaimana Sobat? Unik, bukan? Upacara ini masih dilakukan oleh penduduk asli Toraja hingga kini, loh! Tertarik mengunjungi Tana Toraja dan menyaksikan langsung upacara ini?

foto: sosbud.kompasiana.com

(nab/rut)

Kisah Ritual Pemakaman di Tana Toraja silky

Review

Kisah Ritual Pemakaman di Tana Toraja

Summary: Kisah Ritual Pemakaman di Tana Toraja

5

Good

User Rating: 0 (0 votes)

Related Posts